Dirumah megah ada seorang nyonyaRamping bodinyaLagaknya centil dan tak mau kalahDengan gadis remaja
Melirik matanyaBila melihat pemudaYang gagak perkasaApalagi dia orang kaya
Hei tante LisaWajahmu kini semakin mempesonaHei tante LisaSetahun sudah kau jadi janda
Perceraian terjadiGara gara sang suamiTak tahan melihatTante Lisa bercumbu dengan tetangga
Hei tante LisaWajahmu kini semakin mempesonaHei tante LisaSetahun sudah kau jadi janda
Hei tante LisaBanyak tuan tuan berkencan bersamamuHei tante LisaLihat usiamu yang semakin tua
The lyrics are the property of the respective authors, artists and labels, the lyrics are provided for educational purposes only , If you like the song, please buy relative CD to support the authors, artists, and labels.
Friday, September 27, 2013
22 Januari - Iwan Fals
Coba saling mengerti apa didalam hati
22 Januari tidak sendiri
Aku berteman iblis yang baik hati
Jalan berdampingan
Tak pernah ada tujuan
Membelah malam
Mendung yang selalu datang
Ku dekap erat
Ku pandang senyummu
Dengan sorot mata
Yang keduanya buta
Lalu kubisikan sebaris kata-kata
Putus asa....sebentar lagi hujan
dua buku teori kau pinjamkan aku
Tebal tidak berdebu kubaca slalu
empat lembar fotomu dalam lemari kayu
kupandang dan kujaga sampai kita jemu
22 Januari tidak sendiri
Aku berteman iblis yang baik hati
Jalan berdampingan
Tak pernah ada tujuan
Membelah malam
Mendung yang selalu datang
Ku dekap erat
Ku pandang senyummu
Dengan sorot mata
Yang keduanya buta
Lalu kubisikan sebaris kata-kata
Putus asa....sebentar lagi hujan
dua buku teori kau pinjamkan aku
Tebal tidak berdebu kubaca slalu
empat lembar fotomu dalam lemari kayu
kupandang dan kujaga sampai kita jemu
Doa Pengobral Dosa - Iwan Fals
Disudut dekat gerbong... Yang tak terpakaiPerempuan... Bermake up tebal...Dengan rokok ditangan...Menunggu tamunya... Datang....
Terpisah dari ramaiBerteman nyamuk nakal... Dan segumpal harapanKapankah datang... Tuan berkantong tebal...
Habis berpasang-pasang... Tuan belom datangDalam hati resah menjadi bimbangApakah esok hari... Anak anakku dapat makan...
o Tuhan beri... Setetes rejeki...Dalam hati yang bimbang berdoa...Beri terang jalan anak hamba....Kabulkanlah... Tuhan...
Terpisah dari ramaiBerteman nyamuk nakal... Dan segumpal harapanKapankah datang... Tuan berkantong tebal...
Habis berpasang-pasang... Tuan belom datangDalam hati resah menjadi bimbangApakah esok hari... Anak anakku dapat makan..
o Tuhan beri... Setetes rejeki..
Dalam hati yang bimbang berdoa...Beri terang jalan anak hamba....Kabulkanlah... Tuhan...
Kabulkanlah... Tuhan...
Terpisah dari ramaiBerteman nyamuk nakal... Dan segumpal harapanKapankah datang... Tuan berkantong tebal...
Habis berpasang-pasang... Tuan belom datangDalam hati resah menjadi bimbangApakah esok hari... Anak anakku dapat makan...
o Tuhan beri... Setetes rejeki...Dalam hati yang bimbang berdoa...Beri terang jalan anak hamba....Kabulkanlah... Tuhan...
Terpisah dari ramaiBerteman nyamuk nakal... Dan segumpal harapanKapankah datang... Tuan berkantong tebal...
Habis berpasang-pasang... Tuan belom datangDalam hati resah menjadi bimbangApakah esok hari... Anak anakku dapat makan..
o Tuhan beri... Setetes rejeki..
Dalam hati yang bimbang berdoa...Beri terang jalan anak hamba....Kabulkanlah... Tuhan...
Kabulkanlah... Tuhan...
Ibu - Iwan Fals
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah
Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....
Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah
Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....
Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu
Wednesday, September 25, 2013
Mata Indah Bola Ping Pong - Iwan Fals
Pria mana yang tak suka
Senyummu juwita
Kalau ada yang tak suka
Mungkin sedang goblok
Engkau baik
Engkau cantik
Kau wanita
Aku cinta
Mata indah bola ping pong
Masihkah kau kosong
Bolehkah aku membelai
Hidungmu yang aduhai
Engkau baik
Engkau cantik
Kau wanita
Aku puja
Jangan marah kalau kugoda
Sebab pantas kau digoda
Salah sendiri kau manis
Punya wajah teramat manis
Wajar saja kalau kuganggu
Sampai kapan pun kurindu
Lepaskan tawamu nona
Agar tak murung dunia
Engkau baik
Engkau cantik
Kau wanita
Aku cinta
Aku puja
Kau betina
Bukan gombal
Aku yang gila
Jangan marah kalau kugoda
Sebab pantas kau digoda
Salah sendiri kau manis
Punya wajah teramat manis
Wajar saja kalau kuganggu
Biar mampus aku rindu
Lepaskan tawamu nona
Agar tak murung dunia
Mata indah bola ping pong
Masihkah kau kosong
Bolehkah aku membelai
Hidungmu yang aduhai
Mata indah bola ping pong
Masihkah kau kosong
Bolehkah aku membelai
Bibirmu yang aduhai
Mata indah bola ping pong
Masihkah kau kosong
Bolehkah aku membelai
Pipimu yang aduhai
Mata indah bola ping pong
Masihkah kau kosong
Bolehkah aku membelai
Jidatmu yang aduhai
Senyummu juwita
Kalau ada yang tak suka
Mungkin sedang goblok
Engkau baik
Engkau cantik
Kau wanita
Aku cinta
Mata indah bola ping pong
Masihkah kau kosong
Bolehkah aku membelai
Hidungmu yang aduhai
Engkau baik
Engkau cantik
Kau wanita
Aku puja
Jangan marah kalau kugoda
Sebab pantas kau digoda
Salah sendiri kau manis
Punya wajah teramat manis
Wajar saja kalau kuganggu
Sampai kapan pun kurindu
Lepaskan tawamu nona
Agar tak murung dunia
Engkau baik
Engkau cantik
Kau wanita
Aku cinta
Aku puja
Kau betina
Bukan gombal
Aku yang gila
Jangan marah kalau kugoda
Sebab pantas kau digoda
Salah sendiri kau manis
Punya wajah teramat manis
Wajar saja kalau kuganggu
Biar mampus aku rindu
Lepaskan tawamu nona
Agar tak murung dunia
Mata indah bola ping pong
Masihkah kau kosong
Bolehkah aku membelai
Hidungmu yang aduhai
Mata indah bola ping pong
Masihkah kau kosong
Bolehkah aku membelai
Bibirmu yang aduhai
Mata indah bola ping pong
Masihkah kau kosong
Bolehkah aku membelai
Pipimu yang aduhai
Mata indah bola ping pong
Masihkah kau kosong
Bolehkah aku membelai
Jidatmu yang aduhai
Wednesday, September 4, 2013
Pesawat Tempur - Iwan Fals
Waktu kau lewat aku sedang mainkan gitarSebuah lagu yang kunyanyikan tentang dirimuSeperti kemarin kamu hanya lemparkan senyumLalu pergi begitu saja bagai pesawat tempur
Hei... kau yang manis singgahlah dan ikut bernyanyiSebentar saja nona, sebentar saja hanya sebentar
Rayuan mautku tak membuat kau jadi galakBagai seorang diplomat ulung engkau mengelak
Kalau saja aku bukanlah penganggur sudah kupacari kauJangan bilang tidak, bilang saja iya...Iya lebih baik daripada kau menangis
Penguasa...penguasa...berilah hambamu uangBeri hamba uang 2x
Oh.. ya andaikata dunia tak punya tentaraTentu tak ada perang yang makan banyak biayaOh...ya andaikata tak punya tentaraTentu tak ada perang yang makan banyak biaya
Oh... ya andaikata dana perang buat dirikuTentu kau mau singgah bukan cuma tersenyumKalau hanya senyum yang engkau berikanWesterling pun tersenyum
Oh... singgahlah sayang ...pesawat tempurkuMendarat mulus didalam sanubariku
Hei... kau yang manis singgahlah dan ikut bernyanyiSebentar saja nona, sebentar saja hanya sebentar
Rayuan mautku tak membuat kau jadi galakBagai seorang diplomat ulung engkau mengelak
Kalau saja aku bukanlah penganggur sudah kupacari kauJangan bilang tidak, bilang saja iya...Iya lebih baik daripada kau menangis
Penguasa...penguasa...berilah hambamu uangBeri hamba uang 2x
Oh.. ya andaikata dunia tak punya tentaraTentu tak ada perang yang makan banyak biayaOh...ya andaikata tak punya tentaraTentu tak ada perang yang makan banyak biaya
Oh... ya andaikata dana perang buat dirikuTentu kau mau singgah bukan cuma tersenyumKalau hanya senyum yang engkau berikanWesterling pun tersenyum
Oh... singgahlah sayang ...pesawat tempurkuMendarat mulus didalam sanubariku
Tuesday, July 9, 2013
Antara Aku, Kau dan Bekas Pacarmu - Iwan Fals
tabir gelap yang dulu hinggap
lambat laun mulai terungkap
labil tawamu
tak pasti tangismu
jelas membuat aku sangat ingin mencari
apa yang tersembunyi
di balik manis senyummu
apa yang tersembunyi
di balik bening dua matamu
jalan gelap yang kau pilih
penuh lubang dan mendaki
jalan gelap yang kau pilih
penuh lubang dan mendaki
Monday, July 8, 2013
Air Mata Api - Iwan Fals
Aku adalah lelaki tengah malamAyahku harimau ibuku ularAku dijuluki orang sisa sisaSebab kerap merintih kerap menjerit
Temanku gitar temanku laguNyanyikan tangis marah dan cintaTemanku niat temanku semangatYang kian hari kian berkarat semakin berkarat
Aku berjalan orang cibirkan mulutAku bicara mereka tutup hidungAku tersinggung peduli nilai nilaiAku datangi dengan segunung api
Mereka lari ke ketiak ibunyaKu tak peduli marahku menjadiMereka lari ke meja ayahnyaAku tak mampu tenagaku terkuras
Lelaki tengah malam terkulai di tepi malamLelaki tengah malam terkulai di tepi malamOrang sisa sisa menangisOrang sisa sisa menangis
Air matanyaAir matanyaAir matanyaApi
Aku berjalan orang cibirkan mulutAku bicara mereka tutup hidungAku tersinggung peduli nilai nilaiAku datangi dengan segunung api
Mereka lari ke ketiak ibunyaKu tak peduli marahku menjadiMereka lari ke meja ayahnyaAku tak mampu tenagaku habis terkuras
Lelaki tengah malam terkulai di tepi malamLelaki tengah malam terkulai di tepi malamOrang sisa sisa menangisOrang sisa sisa menangis
Air matanyaAir matanyaAir matanyaApi
Air matanyaAir matanyaAir matanyaApi
Temanku gitar temanku laguNyanyikan tangis marah dan cintaTemanku niat temanku semangatYang kian hari kian berkarat semakin berkarat
Aku berjalan orang cibirkan mulutAku bicara mereka tutup hidungAku tersinggung peduli nilai nilaiAku datangi dengan segunung api
Mereka lari ke ketiak ibunyaKu tak peduli marahku menjadiMereka lari ke meja ayahnyaAku tak mampu tenagaku terkuras
Lelaki tengah malam terkulai di tepi malamLelaki tengah malam terkulai di tepi malamOrang sisa sisa menangisOrang sisa sisa menangis
Air matanyaAir matanyaAir matanyaApi
Aku berjalan orang cibirkan mulutAku bicara mereka tutup hidungAku tersinggung peduli nilai nilaiAku datangi dengan segunung api
Mereka lari ke ketiak ibunyaKu tak peduli marahku menjadiMereka lari ke meja ayahnyaAku tak mampu tenagaku habis terkuras
Lelaki tengah malam terkulai di tepi malamLelaki tengah malam terkulai di tepi malamOrang sisa sisa menangisOrang sisa sisa menangis
Air matanyaAir matanyaAir matanyaApi
Air matanyaAir matanyaAir matanyaApi
Thursday, June 20, 2013
Yang Terlupakan - Iwan Fals
denting piano
kala -jemari menari
nada merambat pelan
di kesunyian malam
saat datang rintik hujan
bersama setiap bayang
yang pernah terlupakan
hati kecil berbisik
untuk kembali padanya
s'ribu kata menggoda
s'ribu sesal di depan mata
seperti menjelma
saat aku tertawa
kala memberimu dosa
ooo...maafkanlah
ooo...maafkanlah
reff: rasa sesal di dasar hati
diam tak mau pergi
haruskah aku lari dari
kenyataan ini
pernah kumencoba tuk sembunyi
namun senyummu
tetap mengikuti
Thursday, May 30, 2013
Siang Seberang Istana - Iwan Fals
Seorang anak kecil bertubuh dekilTertidur berbantal sebelah lenganBerselimut debu jalanan
Rindang pohon jalan menunggu relaKawan setia sehabis bekerjaSiang di seberang sebuah istanaSiang di seberang istana sang raja
Reff I:Kotak semir mungil dan sama dekilBenteng rapuh dari lapar memanggilGardu dan mata para penjagaSaksi nyata....... Yang sudah terbiasa
Tamu negara tampak terpesonaMengelus dada gelengkan kepalaSaksikan perbedaaan yang ada
Reff II:Sombong melangkah istana yang megahSeakan meludah di atas tubuh yang resahRibuan jerit di depan hidungmuNamun yang ku tau.... Tak terasa terganggu
Kembali ke: reff I & reff II
Gema azan ashar sentuh telingaBuyarkan mimpi si kecil siang tadiDia berjalan malas melangkahkan kakiDi raihnya mimpi di genggam tak di letakkan...Lagi...
Rindang pohon jalan menunggu relaKawan setia sehabis bekerjaSiang di seberang sebuah istanaSiang di seberang istana sang raja
Reff I:Kotak semir mungil dan sama dekilBenteng rapuh dari lapar memanggilGardu dan mata para penjagaSaksi nyata....... Yang sudah terbiasa
Tamu negara tampak terpesonaMengelus dada gelengkan kepalaSaksikan perbedaaan yang ada
Reff II:Sombong melangkah istana yang megahSeakan meludah di atas tubuh yang resahRibuan jerit di depan hidungmuNamun yang ku tau.... Tak terasa terganggu
Kembali ke: reff I & reff II
Gema azan ashar sentuh telingaBuyarkan mimpi si kecil siang tadiDia berjalan malas melangkahkan kakiDi raihnya mimpi di genggam tak di letakkan...Lagi...
Wednesday, May 29, 2013
Surat Buat Wakil Rakyat - Iwan Fals
Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana, di gedung DPR
Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman teman dekat
Apalagi sanak famili
Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Di kantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Merauke
Saudara dipilih bukan dilotre
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam, juara he'eh, juara ha ha ha......
Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana, di gedung DPR
Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu "setuju......"
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana, di gedung DPR
Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman teman dekat
Apalagi sanak famili
Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Di kantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Merauke
Saudara dipilih bukan dilotre
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam, juara he'eh, juara ha ha ha......
Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana, di gedung DPR
Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu "setuju......"
Wednesday, May 15, 2013
Sarjana Muda - Iwan Fals
Berjalan seorang pria mudaDengan jaket lusuh dipundaknyaDi sela bibir tampak mengeringTerselip s'batang rumput liar
Jelas menatap awan berarakWajah murung s'makin terlihatDengan langkah gontai tak terarahKeringat bercampur debu jalanan
Reff I :
Engkau sarjana mudaResah mencari kerjaMengandalkan ijasahmuEmpat tahun lamanyaBergelut dengan buku'Tuk jaminan masa depanLangkah kakimu terhentiDi depan halaman sebuah jawaban
Termenung lesu engkau melangkahDari pintu kantor yang di harapkanTergiang kata tiada lowonganUntuk kerja yang di dambakan
Tak peduli berusaha lagiNamun kata sama yang kau dapatkanJelas menatap awan berarakWajah murung s'makin terlihat
Reff II :
Engkau sarjana mudaResah mencari kerjaTak berguna ijasahmuEmpat tahun lamanyaBergelut dengan buku
Sia-sia semuanyaSetengah putus asa dia berucap"maaf ibu..."
Tuesday, April 30, 2013
Bung Hatta - Iwan Fals
Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta...
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia...
Reff :
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi...
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu...
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas... jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu...
Kembali ke Reff.
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta...
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia...
Reff :
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi...
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu...
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas... jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu...
Kembali ke Reff.
Wednesday, April 24, 2013
Bento - Iwan Fals
Namaku Bento, rumah real estateMobilku banyak, harta melimpahOrang memanggilku, bos eksekutifTokoh papan atas, atas sgalanya, asik!
Wajahku ganteng, banyak simpananSekali lirik, oh bisa jalanBisnisku menjagal, jagal apa sajayang penting aku senang, aku menangPersetan orang susah, karena akuYang penting asik, sekali lagi, asik!
Obral soal moral, omong keadilan, sarapan pagikuAksi tipu-tipu, lobi dan upeti, woo jagonyaMaling kelas teri, bandit kelas coro, itu kantong sampahSiapa yang mau berguru, datang padaku, sebut 3 kali namakuBento bento bento.. asik..
Wajahku ganteng, banyak simpananSekali lirik, oh bisa jalanBisnisku menjagal, jagal apa sajayang penting aku senang, aku menangPersetan orang susah, karena akuYang penting asik, sekali lagi, asik!
Obral soal moral, omong keadilan, sarapan pagikuAksi tipu-tipu, lobi dan upeti, woo jagonyaMaling kelas teri, bandit kelas coro, itu kantong sampahSiapa yang mau berguru, datang padaku, sebut 3 kali namakuBento bento bento.. asik..
Saturday, April 20, 2013
Guru Oemar Bakri - Iwan Fals
Tas hitam dari kulit buaya
"Selamat pagi!", berkata bapak Oemar Bakri
"Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali!"
Tas hitam dari kulit buaya
Mari kita pergi, memberi pelajaran ilmu pasti
Itu murid bengalmu mungkin sudah menunggu
(*)
Laju sepeda kumbang di jalan berlubang
S'lalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang
Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang
Banyak polisi bawa senjata berwajah garang
Bapak Oemar Bakri kaget apa gerangan
"Berkelahi Pak!", jawab murid seperti jagoan
Bapak Oemar Bakri takut bukan kepalang
Itu sepeda butut dikebut lalu cabut, kalang kabut, cepat pulang
Busyet... Standing dan terbang
Reff.
Oemar Bakri... Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri... Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri... Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri... Profesor dokter insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri
Kembali ke (*)
Bapak Oemar Bakri kaget apa gerangan
"Berkelahi Pak!", jawab murid seperti jagoan
Bapak Oemar Bakri takut bukan kepalang
Itu sepeda butut dikebut lalu cabut, kalang kabut
Bakrie kentut... Cepat pulang
Oemar Bakri... Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri... Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri... Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri... Bikin otak orang seperti otak Habibie
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri
"Selamat pagi!", berkata bapak Oemar Bakri
"Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali!"
Tas hitam dari kulit buaya
Mari kita pergi, memberi pelajaran ilmu pasti
Itu murid bengalmu mungkin sudah menunggu
(*)
Laju sepeda kumbang di jalan berlubang
S'lalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang
Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang
Banyak polisi bawa senjata berwajah garang
Bapak Oemar Bakri kaget apa gerangan
"Berkelahi Pak!", jawab murid seperti jagoan
Bapak Oemar Bakri takut bukan kepalang
Itu sepeda butut dikebut lalu cabut, kalang kabut, cepat pulang
Busyet... Standing dan terbang
Reff.
Oemar Bakri... Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri... Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri... Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri... Profesor dokter insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri
Kembali ke (*)
Bapak Oemar Bakri kaget apa gerangan
"Berkelahi Pak!", jawab murid seperti jagoan
Bapak Oemar Bakri takut bukan kepalang
Itu sepeda butut dikebut lalu cabut, kalang kabut
Bakrie kentut... Cepat pulang
Oemar Bakri... Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri... Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri... Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri... Bikin otak orang seperti otak Habibie
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri
Subscribe to:
Posts (Atom)